Ini kisah pagi minggu yang lalu.
Saya sedang semangat merapikan tanaman di halaman. Pasalnya sejak beberapa bulan, tanaman-tanaman hias ini tidak pernah saya sentuh. Banyak yang sudah berubah bentuk.
Ada Sirih gading yang sudah menjalar kemana-mana Ada Singonium yang sudah merambat keluar dari potnya. Ada beberapa tanaman Spider Plant yang berpuluh-puluh anakannya sudah menggantung harus segera dipisah.
Pot & media tanam sudah saya beli minggu yang lalu. Hari ini tinggal memisahkan anakan tanaman-tanaman ini dari indukannya ke pot-pot yang baru.
Saya ada juga membeli 2 kg pupuk urea dan 2 kg pupuk npk. Eeh, tapi di mana ya?
Saya cari-cari di tempat pot tidak ada. Di belakang bale tempat biasa menyimpan peralatan tanaman, juga tidak ada. Di laci teras belakang juga tidak ada. Hmmm…di mana ya?
Barangkali di rak barang-barang yang digudangkan. Tidak ada juga! Di mana ya?
Suami saya dan Bapak Supir yang kebetulan ada di rumah juga ikut membantu mencari-cari, tapi tidak ada. Adduhh…di mana ya. Kalau barang-barang itu hilang, lumayan juga ya. Soalnya bukan hanya pupuk urea dan npk, tetapi ada juga gunting dahan yang baru dan sekop kecil. Duuhhh!
Lalu saya mulai nge-chat Mbak yang biasanya membantu pekerjaan saya di rumah, yang kebetulan hari ini nggak masuk. Barangkali beliau tahu. Lama, belum dibalas juga.
Melihat kegelisahan saya, suami mulai bertanya, apa mungkin ketinggalan di toko? Lupa tidak terbawa? Ooh ya!. Bisa jadi juga sih. Saya lalu bertanya, siapa yang menurunkan barang-barang itu dari kendaraan ya?
"Saya !"Kata Pak Supir sambil tersenyum.
"Lha? Terus nggak lihat ada pupuk, gunting dan sekop kecil?"
"Guntingnya warna apa, Bu?
"Merah putih. Sekopnya warna hijau"
"Saya lihat ada gunting, Bu. Tapi warna kuning"
"Lha, bukan yang itu"
Pak Supirpun tertawa dan kembali ikut bingung mencari-cari. Tapi pupuk, gunting dan sekop itu tetap tidak ada.
"Kalau tidak ada di kendaraan, berarti memang ketinggalan di toko" , komentar suami saya.
Saya coba mengingat-ingat . Ya. Barang-barang itu, pupuk, gunting dan sekop kecil memang terpisah dari pot dan media tanam. Karena tempat displaynya di dekat kasir. Sedang pot dan media tanam ada di bagian depan toko yang luas itu Saya jadi ingat, barang-barang yang tidak ketemu itu saat diletakkan di meja kasir.
"Kita tanya saja ke toko. Mungkin ketinggalan di situ. Kan tokonya dekat ini" saran suami.
Oh ya, sebenarnya bisa saya telpon ke toko. Struk pembeliannya masih ada di dompet. Mungkin ada nomer telpon tokonya di situ. Ah, benar. Ada nomer telpon call centernya.
Sayapun menelpon. Menceritakan bahwa minggu yang lalu saya membeli beberapa pot, media tanam, pupuk, gunting dahan dan sekop. Tapi pupuk, gunting dan sekop saya ketinggalan di meja kasir.
Sang penerima telpon menanyakan siapa kasirnya saat itu. Saya lihat di struk pembelian, nama kasirnya adalah Agil. Lalu beliau memberikan nomer Agil dan mempersilakan saya menghubungi Agil secara langsung. Ah, senang hati saya.
Sayapun langsung menelpon Agil. Tidak diangkat. Coba telpon lagi tidak diangkat. Telponnya tidak aktif. Akhirnya saya nge-chat Agil. Setidaknya, nanti jika beliau sudah aktif, chat saya terbaca olehnya.
Isi chat saya, bahwa saya adalah ibu yang berbelanja pot, dan keperluan kebun lainnya minggu lalu, saya ketinggalan sebagian barang belanjaan saya di meja kasir. Lalu saya detailkan apa saja barang yang tertinggal. Hingga setidaknya 7 baris panjang chat saya.
"Sudah saya chat" kata saya kepada suami dan Pak Supir dengan perasaan lega.
Saya membayangkan kembali kejadian-kejadian yang berlangsung di toko itu. Rasanya seperti menonton film.
Saya melihat diri saya sedang membayar di kasir. Agil memasukkan kode barang ke dalam mesir kasir, sementara saya berdiri di depannya. Pupuk urea 2 kg. Pupuk NPK 2 kg. Bibit ketumbar 1 pack. Gunting dahan 1 bh. Sekop kecil 1 bh. Agil memasukkannya sambil menumpuk barang-barang itu di meja kasir.
Lalu Agil meminta Salesman toko yang melayani saya untuk membacakan jenis-jenis pot yang saya dan suami saya beli saat itu, lalu saya menyebut 4 karung media tanam. Saya membayar sejumlah yang disebutkan.
Agil memasukkan pupuk, benih, sekop dan gunting itu ke dalam sebuah plastik besar lalu mengasongkannya kepada saya.
Lalu Agil menyuruh Salesman itu untuk mengantarkan pot-pot ke kendaraan saya. Dan juga meminta Salesman untuk mengambilkan 4 karung media.
Saya melihat diri saya berjalan keluar dari pintu toko, melintasi tumpukan display pot-pot di bagian depan toko lalu menuju ke kendaraan. Suami saya yang berdiri di dekat kendaraan segera mengambil alih bungkusan tas plastik yang saya bawa lalu berkomentar,
"Wow! Berat juga ini. Harusnya jangan ngangkat yang berat-berat begini" kata suami saya.
"Ya. Paling tidak 4 kg beratnya. Itu pupuknya saja. Belum yang lain-lain" jawab saya.
"Ya. Makanya jangan angkat-angkat yang berat begini. Harusnya tadi minta tolong Salesmannya saja yang ngangkatin. Ntar kan bisa kita kasih uang" omel suami saya.
Lalu ia mengangkat plastik itu dan meletakkannya di bagasi kendaraan. Saya lihat, setelah itu saya masuk ke dalam kendaraan dan tidak lagi memperhatikan salesman yang mengangkat pot dan media tanam.
Setelah memutar ulang kejadian itu di kepala saya, saya ingatkan kembali ke suami saya bahwa ia menerima plastik berisi pupuk itu dan berkomentar jika itu terlalu berat buat saya. Nah sekarang ia ingat. Pupuk itu sudah masuk kendaraan. Tapi sekarang sudah tidak ada di kendaraan. Artinya pasti sudah ada di rumah, walau entah di mana diletakkan oleh entah siapa.
Tepat ketika suami saya mengatakan ia ingat akan kejadian itu, tiba-tiba terdengar notifikasi di WhatsApp. Balasan chat saya dari Mbak yang setiap hari membantu pekerjaan rumah tangga
" Ibu, pupuknya saya taruh di dalam box di bawah keranjang setrikaan".
Lah, baru jawab. Setelah sejam lebih terjadi drama yang heboh. Dan ternyata pupuk itu memang ada di dalam box di bawah keranjang setrikaan.
Waduuuh…
Bagaimana ini? Mana sudah melayangkan complaint ke pihak toko peralatan tanaman pula.
Cepat-cepat saya menelpon customer servicenya kembali. Mengabarkan jika pupuk-pupuk itu sudah ditemukan di rumah saya dan saya meminta maaf atas kesalahan saya yang sudah komplain padahal saya yang kurang teliti dan kurang sabar dalam mencari tahu.
Demikian juga pesan chat yang saya kirim ke Agil. Untungnya belum dibaca oleh Agil. Cepat-cepat saya delete semua. Aduuuh, maaf. Maaf.
Saya menegur diri saya sendiri ," Lain kali, periksa dan teliti dulu diri sendiri dan pastikan tidak ada yang salah di pihak kita, sebelum menyalahkan orang lain.



No comments:
Post a Comment